Jadilah Milikku, Mau?

“Selamat pagi my princess, sudah bangun kan? Jangan lupa minum perasan jeruk nipisnya ya….” Hhm…. Sms lagi sambil kuhempaskan Galaxy S2 ke tempat tidur sambil berlalu menuju dapur untuk menyelsaikan membuat sarapan. Pagi ini menunya Sandwich isi tuna, hmmm nyam nyam.

Sudah tiga bulan ini setiap harinya selalu ada sms masuk dari nomor yang tidak kukenal, setiap aku balas atau ku telpon, slalu tidak ada jawaban, namun nomor ini selalu mengirimi aku sms hampir 4 kali setiap harinya, lebih banyak dari jadwal makan obat. Akhir-akhir ini, si peng-sms telah berhasil menempati satu slot di bagian otak ku. Slalu jadi bahan pikiran, apalagi isi sms nya siang atau sore ini? Selalu saja ada pertanyaan dan saran yang disampaikan, selalu berbeda setiap harinya. Siapakah kamu hai pengirim sms?

Siang hari, seperti biasa aku selalu menikmati makan siang di Restoran cepat saji yang berlokasi lumayan jauh dari studio, namun lebih dekat ke kampus. Sengaja kulakukan untuk menghindari ada yang kukenal disana, saat makan siang adalah saat paling menyenangkan dulu. Saat dimana aku bisa menggoda “kakak” kesayanganku saat kami makan, dimana “kakak” akan selalu mencela apa yang aku makan jika tidak sesuai dengan standar kesehatannya. Dan sudah sebulan ini, aku selalu makan di fast food, tempat makan yang selalu kakak hindari. Sengaja kulakukan, karena aku rindu rayuannya saat mengalihkanku agar tidak kesini. Kakak, dimanakah kamu? Ini adikmu nakal, selalu makan junk food. Sini, larang dia, marahi dia. Dan titik air mata itu selalu jatuh. Namun ini adalah saat yang indah, saat aku selalu mengenang kakak.

Tiba-tiba suara sms masuk di Galaxy S2 ku mengagetkan. “Jika my princess mau mulai makan sehat, aku akan segera menunjukan diriku”

“Siapa kamu? Aku bukan your princess!” ku kirim jawaban pesan singkatnya.

“Jika aku menunjukan siapa diriku, Jadilah milikku, mau?”

“Sinting!” pesan ketus menjadi jawabanku.

“Terimakasih banyak. Mungkin ini pesan singkatku yang terakhir. Kamu tidak akan diganggu lagi.” Ups…. Kaget aku membacanya. Apakah dia tersinggung? Ah biar saja, toh selama ini aku selalu menjawab ketus dan dia tidak pernah menggubris. Akhirnya kujawab dengan “Terimakasih kembali. Maaf jika selama ini aku telah menyakitimu”

Acara makan kuakhiri dengan sedikit kekesalan. Ada gangguan merusak kenanganku.

Sepulang dari studio, entah kenapa aku tiba-tiba sangat ingin datang lagi ke kedai itu? Kedai yang sudah hampir lima tahun tidak kukunjungi, ya lima tahun, sejak kepergian kakak yang sangat mendadak. Tanpa kabar, dan tidak ada yang mau memberiku penjelasan. Hanya sepucuk surat yang mengatakan bahwa aku harus tetap kuat, dan melanjutkan hidupku. Tanpa kakak. Huft….

“tidak akan kulakukan lagi!” pekikku dalam hati sambil berlalu menuju istanaku.

Masih teringat kejadian setahun lalu, seorang pria mengaku sahabat kakak datang dan merusak semuanya. Membuat aku kembali teringat pada kakak, dan mulai tergantung lagi untuk selalu memikirkannya.

Washington clock yang menempel di dinding kamar telah menunjukkan pukul 2 dini hari. Tapi anehnya mata ini masih belum dapat terlelap. Aku tidak bisa tidur. Aneh. Hingga adzan subuh memanggil, mataku sukses melek semalaman. Akhirnya aku beranjak dengan lemas dari tempat tidur. Sesampainya di studio, hp ku tidak ada suara.

Aneh, pikiranku mulai bertanya-tanya. Apakah dia benar-benar marah? Tidak akan mengirimiku sms lagi setiap waktu? Hingga tiba tengah malam, akhirnya aku baru menyadari. Aku merindukan bunyi sms itu, aku merindukan sebutan my princess.

 

Pagi ini seharusnya siklus bulananku datang, aku memutuskan untuk tidak datang ke studio, mengambil jatah ijin bulanan. Rencananya hari ini akan kuhabiskan dengan makan, nonton film, dan membaca komik. Pokonya hari bebas! Pekikku dalam hati.

Kulihat washington clock di dinding, “hm, sudah hampir 45 menit” gumamku. Tiba-tiba kudengar suara motor berhenti dan membuka gerbang. “ah ini dia, terlambat 15 menit mas” sambil membuka pintu. “Maaf mba atas ketidaknyamannya. Untuk keterlamtana kami ini voucher gratis untuk pemesanan selanjutnya” akhirnya kuterima dan segera masuk untuk menikmati pizza favoritku.

Belum sempat sampai sofa, sudah ada bel pintu berbunyi. Ah mungkin tukang pizza, ada yang kurang. “Ada yang ketingga…” suaraku terpotong, seorang yang berdiri di pintu bukan tukang pizza tadi. Lututku tiba-tiba lemas, detak jantung terasa lebih cepat dari yang seharusnya, seakan tidak percaya, aku bertanya. “Iya, siapa ya? ada yang bisa saya bantu?” tercekat aku menyapa.

“de, masih inget kan?” suaranya makin membuat aku lemas, suara yang dulu sangat sering kudengar, suara yang lima tahun ini tidak pernah kudengar lagi. Suara yang slalu kurindukan.

“mmm…asuk” tercekat aku mundur dan mempersilahkan tamu itu masuk.

“apa kabar de?”

Aku masih diam.

“ade tinggal sendiri disini?”

Tiba-tiba aku kehilangan kendali. Tangisku pecah. Dan “Tolong keluar! Saya tidak kenal kamu!” bentakku yang sudah tidak bisa menahan perasaan. “Maaf de, kakak tidak bisa lagi menahan semuanya. Kakak akhirnya bisa pulang, tolong beri kakak waktu untuk menjelaskan semuanya. Jadilah milik kakak, untuk selamanya. Kakak janji akan menceritakan semuanya.” Suaranya yang tenang dan pelukannya yang hangat membuatku luluh dan berhenti meronta.

 

Kakak ku telah kembali, dan kini aku akan selalu bersamanya. Ia telah berjanji. Akan selalu membagi semuanya bersamaku, tidak akan pernah pergi lagi, meski itu untuk kebaikanku. Love u, selalu…..

 

=== Untukmu Selamanya ===

Studio, 16 Januari 2012

Akhirnya ada jalan untuk memaksakan melaksanakan kesukaan yang lama tidak termanjakan, akhirnya amatir ini mencoba beranikan untuk ikut dalam proyek #15HariNgeblogFF yang diadakan oleh Mbak @WangiMS dan Mas @momo_DM

Iklan

Satu pemikiran pada “Jadilah Milikku, Mau?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s