Ada dia di matamu

Sudah delapan tahun sejak pertama kali bertemu, dia selalu berusaha mencari perhatianku. Untuk enam tahun ke belakang, mungkin aku tidak bermasalah, tapi semenjak satu tahun lalu, sejak Kak Ghie, adik kandung Kak Dewa menghilang entah kemana, hanya meninggalkan secarik surat yang berisi bahwa dia sangat menyayangiku bahkan tidak bisa hidup tanpa aku, terpaksa harus pergi demi kebaikanku. Pesannya yang paling penting adalah “Ade harus kuat, harus tetap jadi Ade nya Ghie yang kuat, yang ga pernah nangis, dan mandiri”. Apakah itu fair? Pergi tanpa pamit? Demi kebaikan? Kebaikan apa? Luka. Inilah yang ada.

Dan sudah satu tahun berlalu sejak Kak Ghie pergi, sebagai gantinya, Kak Dewa  mendekatiku lebih ekstrim. Selalu datang menjemput ke istana 15 menit sebelum aku berangkat, dan menunggu di gerbang kampus atau studio saat aku akan pulang. Entah apa yang dia harapkan dariku. Padahal sudah dengan tegas kukatakan “Aku ingin sendiri kakakku sayang….” sambil mencubit pipinya yang kaku. Tubuh tegapnya hanya bisa diam saat aku utarakan itu, tapi tetap saja, keesokan harinya kau tetap datang dengan setia. Kau bilang, “Anggap saja aku supirmu. Aku sudah bosan jadi kakak nomor dua.”

“Maaf sekali kakak ku sayang, ade mau belajar mandiri, ingatkan pesan dia?.” sambil berlalu dengan beat hitamku.

Selalu saja. Menungguiku untuk mengantar. Dan selalu menerima penolakan. “Kasihan Kak Rani”, itu selalu yang ada di pikiranku. Kak Rani, kekasih Kak Dewa yang sudah hampir sembilan tahun menjalin hubungan. Ya, sembilan tahun. Bahkan mungkin inilah waktunya bagi mereka untuk melangkah ke tingkat yang lebih serius, bukan sekedar pacaran.

Washington Clock di kamarku menunjukan pukul delapan malam. Waktunya baca komik, pikirku sambil beranjak dari laptop untuk mengambil conan edogawa.

“Ting Tong” Bel pintu berbunyi, tanda ada tamu berkunjung.

Kuintip dari jendela, “ups…. Kak Dewa”

Ada apakah gerangan malam-malam begini datang? Ku buka pintu dan keluar untuk menghindari percakapan di dalam kamar.

“Ko malam-malam datang ka? Ada apa?” Tanyaku langsung tanpa mempersilahkannya untuk duduk.

“Maaf mengganggu de, Kakak mau bicara sesuatu. Ini penting”

“Ya?”

“Ini tentang Ghie dan aku. Kami bersaudara.”

“tentu saja aku tahu itu, namun apa maksudnya?” jawabku dalam hati

“Ghie, dia pergi sudah setahun. Meninggalkan ade sendiri. Dia sengaja pergi. Agar kita dekat”

Deg…… Hatiku bagai ditikam sembilu, sepicik itukah kalian? Pikiranku langsung menghakimi.

“Ja di….” tak sanggup aku melanjutkan kata.

“Maaf ka, ade ga enak badan. Besok saja dilanjutkan pembicaraannya. Besok ade ke rumah” Kataku sambil berlalu dan mengunci pintu. Meninggalkan Kak Dewa yang masih di luar.

Tangisku pecah. Ingin aku berteriak. Ini tidak adil! Kenapa seperti ini? Apa karena dua tahun sebelum Kak Ghie pergi aku sudah menolaknya? Aku memang menolaknya. Tapi bukan karena aku tidak mencintainya. Tapi karena aku sangat mencintainya. Aku belum pantas menerimanya. Aku harus lebih meningkatkan kualitas diri agar aku pantas bersanding denganmu kak, aku ingin menjadi pendampingmu yang sempurna, karena kau adalah pria paling sempurna yang pernah kutemui. Tapi kenapa? Jadi kau sengaja pergi agar Kak Dewa bisa mendekatiku? Karena itukah? Sungguh jahat. Sungguh tidak adil. Dan aku terlelap dalam tangis….

———————————————————————————————————————————————————————

Semua sudah berkumpul di ruang keluarga tanpa Bapak yang sedang dinas luar kota. Aku seperti hakim yang siap memberikan hukuman pada semua penghubi rumah ini. Orang-orang yang sudah kubayangkan akan menjadi keluarga baruku jika aku dan Kak Ghie menikah kelak. Tapi hari ini, dengan sangat terpaksa dan sakit aku melakukannya.

“Ma, Nek, Kak, semuanya. Apakah benar yang Kak Dewa sampaikan sama Fla tadi malam?” tanyaku pada semuanya yang berkumpul.

“Lantas kenapa tidak ada yang bilang alasan kenapa Kak Ghie pergi? Jika memang benar alasannya itu, mohon maafkan Fla atas semuanya. Atas semua yang pernah Fla lakukan, dan yang akan Fla lakukan. Mohon dimaafkan…”

“Apa maksudmu nak?” Mama memotong kalimatku

“Ma, semuanya, maafkan Fla, Kak Ghie sudah rela pergi meninggalkan Fla. Fla juga harus rela meninggalkan kalian semua. Maafkan Fla, mungkin ini terakhir kalinya Fla main ke rumah ini, dan Fla mohon, jangan ada lagi yang main atau menemui Fla. Maafkan Fla Nek, Fla tidak bisa lagi temani nenek jalan-jalan di taman. Fla mohon biarkan Fla belajar untuk hidup sendiri lagi, sama seperti delapan tahun lalu, saat Fla belum ketemu nenek di taman dan ketemu semuanya disini. Kalian sangat berharga. Namun Fla harus belajar untuk sendiri…”

“Nak, jangan seperti itu, mohon maafkan kami, jangan hukum mama dan nenek juga atas perilaku dua kakakmu, masih ada Kak Rosa dan yang lainnya di rumah ini yang sayang kamu.” Nenek memohon. Tidak tega aku memandang mata yang begitu sejuk dan damai kini berlinang air mata. Tapi ini harus aku lakukan. Aku harus bisa mandiri, terlepas dari semuanya.

“Nek, Fla janji. Fla akan datang lagi kemari. Saat Fla sudah siap. Nenek percaya Fla kan?” Janjiku untuk menenangkan hati orang yang sudah kuanggap seperti nenek kandungku sendiri.

Dan aku pergi. Kembali ke istanaku yang kini sangat terasa sepi dan dingin. Aku terhenyak. Aku merasa sendiri.

Bel berbunyi mengagetkanku. Aku sedang hancur. Tidak tertarik untuk mencari tahu siapa tamunya. Aku hanya mampu tertidur di atas Simmons Spring Bed. Setengah terlelap dan lemas. Samar-samar aku melihat sebuah bayangan, ya, ada bayangan orang yang mendekat, siapakah? Bukankah aku tinggal sendiri di istana ini?

“De, Subhanallah. Sejak kapan kamu tidur? Sudah makan?”

“Siapa?” sambil kupicingkan sebelah mata yang sangat sulit kubuka.

“Kak Dewa!” Aku memekik sambil spontan terbangun. Kaget dan spontan beranjak membuat sendiku terasa copot. Ngilu….

“Sejak kapan ade tidur? sudah dua hari kakak perhatikan, lampu depan selalu mati, kakak kira tidak ada siapa-siapa disini. Jangan bilang sejak pulang dari rumah adik tidak keluar” Kak Dewa berbicara tiada henti.

Ya, semua yang dikatakannya benar. Aku tidur, tepatnya tiduran sejak pulang dari rumah.

“Ade baik-baik saja kak, mohon keluar. Tidak baik kita disini hanya berdua saja. Ade mohon”

“Please sayang, sudahlah. Kakak menyerah. Kakak janji, tidak akan mengganggu lagi, tapi tolong, kembalilah seperti dulu. Kami sekeluarga tidak akan mengganggumu lagi, hingga ade yang datang ke rumah. Kami sangat menunggu hari itu. Kakak menyerah. Hanya ada dia di matamu, percuma kakak berusaha. Hiduplah dengan bahagia.” Dan Kak Dewa pun berlalu….

=== Untukmu Selamanya ===

Studio, 17 Januari 2012

Akhirnya ada jalan untuk memaksakan melaksanakan kesukaan yang lama tidak termanjakan, akhirnya amatir ini mencoba beranikan untuk ikut dalam proyek #15HariNgeblogFF yang diadakan oleh Mbak @WangiMS dan Mas @momo_DM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s