Ada dia di matamu

Sudah delapan tahun sejak pertama kali bertemu, dia selalu berusaha mencari perhatianku. Untuk enam tahun ke belakang, mungkin aku tidak bermasalah, tapi semenjak satu tahun lalu, sejak Kak Ghie, adik kandung Kak Dewa menghilang entah kemana, hanya meninggalkan secarik surat yang berisi bahwa dia sangat menyayangiku bahkan tidak bisa hidup tanpa aku, terpaksa harus pergi demi kebaikanku. Pesannya yang paling penting adalah “Ade harus kuat, harus tetap jadi Ade nya Ghie yang kuat, yang ga pernah nangis, dan mandiri”. Apakah itu fair? Pergi tanpa pamit? Demi kebaikan? Kebaikan apa? Luka. Inilah yang ada.

Dan sudah satu tahun berlalu sejak Kak Ghie pergi, sebagai gantinya, Kak Dewa  mendekatiku lebih ekstrim. Selalu datang menjemput ke istana 15 menit sebelum aku berangkat, dan menunggu di gerbang kampus atau studio saat aku akan pulang. Entah apa yang dia harapkan dariku. Padahal sudah dengan tegas kukatakan “Aku ingin sendiri kakakku sayang….” sambil mencubit pipinya yang kaku. Tubuh tegapnya hanya bisa diam saat aku utarakan itu, tapi tetap saja, keesokan harinya kau tetap datang dengan setia. Kau bilang, “Anggap saja aku supirmu. Aku sudah bosan jadi kakak nomor dua.”

“Maaf sekali kakak ku sayang, ade mau belajar mandiri, ingatkan pesan dia?.” sambil berlalu dengan beat hitamku.

Selalu saja. Menungguiku untuk mengantar. Dan selalu menerima penolakan. “Kasihan Kak Rani”, itu selalu yang ada di pikiranku. Kak Rani, kekasih Kak Dewa yang sudah hampir sembilan tahun menjalin hubungan. Ya, sembilan tahun. Bahkan mungkin inilah waktunya bagi mereka untuk melangkah ke tingkat yang lebih serius, bukan sekedar pacaran.

Washington Clock di kamarku menunjukan pukul delapan malam. Waktunya baca komik, pikirku sambil beranjak dari laptop untuk mengambil conan edogawa.

“Ting Tong” Bel pintu berbunyi, tanda ada tamu berkunjung.

Kuintip dari jendela, “ups…. Kak Dewa”

Ada apakah gerangan malam-malam begini datang? Ku buka pintu dan keluar untuk menghindari percakapan di dalam kamar.

“Ko malam-malam datang ka? Ada apa?” Tanyaku langsung tanpa mempersilahkannya untuk duduk.

“Maaf mengganggu de, Kakak mau bicara sesuatu. Ini penting”

“Ya?”

“Ini tentang Ghie dan aku. Kami bersaudara.”

“tentu saja aku tahu itu, namun apa maksudnya?” jawabku dalam hati

“Ghie, dia pergi sudah setahun. Meninggalkan ade sendiri. Dia sengaja pergi. Agar kita dekat”

Deg…… Hatiku bagai ditikam sembilu, sepicik itukah kalian? Pikiranku langsung menghakimi.

“Ja di….” tak sanggup aku melanjutkan kata.

“Maaf ka, ade ga enak badan. Besok saja dilanjutkan pembicaraannya. Besok ade ke rumah” Kataku sambil berlalu dan mengunci pintu. Meninggalkan Kak Dewa yang masih di luar.

Tangisku pecah. Ingin aku berteriak. Ini tidak adil! Kenapa seperti ini? Apa karena dua tahun sebelum Kak Ghie pergi aku sudah menolaknya? Aku memang menolaknya. Tapi bukan karena aku tidak mencintainya. Tapi karena aku sangat mencintainya. Aku belum pantas menerimanya. Aku harus lebih meningkatkan kualitas diri agar aku pantas bersanding denganmu kak, aku ingin menjadi pendampingmu yang sempurna, karena kau adalah pria paling sempurna yang pernah kutemui. Tapi kenapa? Jadi kau sengaja pergi agar Kak Dewa bisa mendekatiku? Karena itukah? Sungguh jahat. Sungguh tidak adil. Dan aku terlelap dalam tangis….

———————————————————————————————————————————————————————

Semua sudah berkumpul di ruang keluarga tanpa Bapak yang sedang dinas luar kota. Aku seperti hakim yang siap memberikan hukuman pada semua penghubi rumah ini. Orang-orang yang sudah kubayangkan akan menjadi keluarga baruku jika aku dan Kak Ghie menikah kelak. Tapi hari ini, dengan sangat terpaksa dan sakit aku melakukannya.

“Ma, Nek, Kak, semuanya. Apakah benar yang Kak Dewa sampaikan sama Fla tadi malam?” tanyaku pada semuanya yang berkumpul.

“Lantas kenapa tidak ada yang bilang alasan kenapa Kak Ghie pergi? Jika memang benar alasannya itu, mohon maafkan Fla atas semuanya. Atas semua yang pernah Fla lakukan, dan yang akan Fla lakukan. Mohon dimaafkan…”

“Apa maksudmu nak?” Mama memotong kalimatku

“Ma, semuanya, maafkan Fla, Kak Ghie sudah rela pergi meninggalkan Fla. Fla juga harus rela meninggalkan kalian semua. Maafkan Fla, mungkin ini terakhir kalinya Fla main ke rumah ini, dan Fla mohon, jangan ada lagi yang main atau menemui Fla. Maafkan Fla Nek, Fla tidak bisa lagi temani nenek jalan-jalan di taman. Fla mohon biarkan Fla belajar untuk hidup sendiri lagi, sama seperti delapan tahun lalu, saat Fla belum ketemu nenek di taman dan ketemu semuanya disini. Kalian sangat berharga. Namun Fla harus belajar untuk sendiri…”

“Nak, jangan seperti itu, mohon maafkan kami, jangan hukum mama dan nenek juga atas perilaku dua kakakmu, masih ada Kak Rosa dan yang lainnya di rumah ini yang sayang kamu.” Nenek memohon. Tidak tega aku memandang mata yang begitu sejuk dan damai kini berlinang air mata. Tapi ini harus aku lakukan. Aku harus bisa mandiri, terlepas dari semuanya.

“Nek, Fla janji. Fla akan datang lagi kemari. Saat Fla sudah siap. Nenek percaya Fla kan?” Janjiku untuk menenangkan hati orang yang sudah kuanggap seperti nenek kandungku sendiri.

Dan aku pergi. Kembali ke istanaku yang kini sangat terasa sepi dan dingin. Aku terhenyak. Aku merasa sendiri.

Bel berbunyi mengagetkanku. Aku sedang hancur. Tidak tertarik untuk mencari tahu siapa tamunya. Aku hanya mampu tertidur di atas Simmons Spring Bed. Setengah terlelap dan lemas. Samar-samar aku melihat sebuah bayangan, ya, ada bayangan orang yang mendekat, siapakah? Bukankah aku tinggal sendiri di istana ini?

“De, Subhanallah. Sejak kapan kamu tidur? Sudah makan?”

“Siapa?” sambil kupicingkan sebelah mata yang sangat sulit kubuka.

“Kak Dewa!” Aku memekik sambil spontan terbangun. Kaget dan spontan beranjak membuat sendiku terasa copot. Ngilu….

“Sejak kapan ade tidur? sudah dua hari kakak perhatikan, lampu depan selalu mati, kakak kira tidak ada siapa-siapa disini. Jangan bilang sejak pulang dari rumah adik tidak keluar” Kak Dewa berbicara tiada henti.

Ya, semua yang dikatakannya benar. Aku tidur, tepatnya tiduran sejak pulang dari rumah.

“Ade baik-baik saja kak, mohon keluar. Tidak baik kita disini hanya berdua saja. Ade mohon”

“Please sayang, sudahlah. Kakak menyerah. Kakak janji, tidak akan mengganggu lagi, tapi tolong, kembalilah seperti dulu. Kami sekeluarga tidak akan mengganggumu lagi, hingga ade yang datang ke rumah. Kami sangat menunggu hari itu. Kakak menyerah. Hanya ada dia di matamu, percuma kakak berusaha. Hiduplah dengan bahagia.” Dan Kak Dewa pun berlalu….

=== Untukmu Selamanya ===

Studio, 17 Januari 2012

Akhirnya ada jalan untuk memaksakan melaksanakan kesukaan yang lama tidak termanjakan, akhirnya amatir ini mencoba beranikan untuk ikut dalam proyek #15HariNgeblogFF yang diadakan oleh Mbak @WangiMS dan Mas @momo_DM

Jadilah Milikku, Mau?

“Selamat pagi my princess, sudah bangun kan? Jangan lupa minum perasan jeruk nipisnya ya….” Hhm…. Sms lagi sambil kuhempaskan Galaxy S2 ke tempat tidur sambil berlalu menuju dapur untuk menyelsaikan membuat sarapan. Pagi ini menunya Sandwich isi tuna, hmmm nyam nyam.

Sudah tiga bulan ini setiap harinya selalu ada sms masuk dari nomor yang tidak kukenal, setiap aku balas atau ku telpon, slalu tidak ada jawaban, namun nomor ini selalu mengirimi aku sms hampir 4 kali setiap harinya, lebih banyak dari jadwal makan obat. Akhir-akhir ini, si peng-sms telah berhasil menempati satu slot di bagian otak ku. Slalu jadi bahan pikiran, apalagi isi sms nya siang atau sore ini? Selalu saja ada pertanyaan dan saran yang disampaikan, selalu berbeda setiap harinya. Siapakah kamu hai pengirim sms?

Siang hari, seperti biasa aku selalu menikmati makan siang di Restoran cepat saji yang berlokasi lumayan jauh dari studio, namun lebih dekat ke kampus. Sengaja kulakukan untuk menghindari ada yang kukenal disana, saat makan siang adalah saat paling menyenangkan dulu. Saat dimana aku bisa menggoda “kakak” kesayanganku saat kami makan, dimana “kakak” akan selalu mencela apa yang aku makan jika tidak sesuai dengan standar kesehatannya. Dan sudah sebulan ini, aku selalu makan di fast food, tempat makan yang selalu kakak hindari. Sengaja kulakukan, karena aku rindu rayuannya saat mengalihkanku agar tidak kesini. Kakak, dimanakah kamu? Ini adikmu nakal, selalu makan junk food. Sini, larang dia, marahi dia. Dan titik air mata itu selalu jatuh. Namun ini adalah saat yang indah, saat aku selalu mengenang kakak.

Tiba-tiba suara sms masuk di Galaxy S2 ku mengagetkan. “Jika my princess mau mulai makan sehat, aku akan segera menunjukan diriku”

“Siapa kamu? Aku bukan your princess!” ku kirim jawaban pesan singkatnya.

“Jika aku menunjukan siapa diriku, Jadilah milikku, mau?”

“Sinting!” pesan ketus menjadi jawabanku.

“Terimakasih banyak. Mungkin ini pesan singkatku yang terakhir. Kamu tidak akan diganggu lagi.” Ups…. Kaget aku membacanya. Apakah dia tersinggung? Ah biar saja, toh selama ini aku selalu menjawab ketus dan dia tidak pernah menggubris. Akhirnya kujawab dengan “Terimakasih kembali. Maaf jika selama ini aku telah menyakitimu”

Acara makan kuakhiri dengan sedikit kekesalan. Ada gangguan merusak kenanganku.

Sepulang dari studio, entah kenapa aku tiba-tiba sangat ingin datang lagi ke kedai itu? Kedai yang sudah hampir lima tahun tidak kukunjungi, ya lima tahun, sejak kepergian kakak yang sangat mendadak. Tanpa kabar, dan tidak ada yang mau memberiku penjelasan. Hanya sepucuk surat yang mengatakan bahwa aku harus tetap kuat, dan melanjutkan hidupku. Tanpa kakak. Huft….

“tidak akan kulakukan lagi!” pekikku dalam hati sambil berlalu menuju istanaku.

Masih teringat kejadian setahun lalu, seorang pria mengaku sahabat kakak datang dan merusak semuanya. Membuat aku kembali teringat pada kakak, dan mulai tergantung lagi untuk selalu memikirkannya.

Washington clock yang menempel di dinding kamar telah menunjukkan pukul 2 dini hari. Tapi anehnya mata ini masih belum dapat terlelap. Aku tidak bisa tidur. Aneh. Hingga adzan subuh memanggil, mataku sukses melek semalaman. Akhirnya aku beranjak dengan lemas dari tempat tidur. Sesampainya di studio, hp ku tidak ada suara.

Aneh, pikiranku mulai bertanya-tanya. Apakah dia benar-benar marah? Tidak akan mengirimiku sms lagi setiap waktu? Hingga tiba tengah malam, akhirnya aku baru menyadari. Aku merindukan bunyi sms itu, aku merindukan sebutan my princess.

 

Pagi ini seharusnya siklus bulananku datang, aku memutuskan untuk tidak datang ke studio, mengambil jatah ijin bulanan. Rencananya hari ini akan kuhabiskan dengan makan, nonton film, dan membaca komik. Pokonya hari bebas! Pekikku dalam hati.

Kulihat washington clock di dinding, “hm, sudah hampir 45 menit” gumamku. Tiba-tiba kudengar suara motor berhenti dan membuka gerbang. “ah ini dia, terlambat 15 menit mas” sambil membuka pintu. “Maaf mba atas ketidaknyamannya. Untuk keterlamtana kami ini voucher gratis untuk pemesanan selanjutnya” akhirnya kuterima dan segera masuk untuk menikmati pizza favoritku.

Belum sempat sampai sofa, sudah ada bel pintu berbunyi. Ah mungkin tukang pizza, ada yang kurang. “Ada yang ketingga…” suaraku terpotong, seorang yang berdiri di pintu bukan tukang pizza tadi. Lututku tiba-tiba lemas, detak jantung terasa lebih cepat dari yang seharusnya, seakan tidak percaya, aku bertanya. “Iya, siapa ya? ada yang bisa saya bantu?” tercekat aku menyapa.

“de, masih inget kan?” suaranya makin membuat aku lemas, suara yang dulu sangat sering kudengar, suara yang lima tahun ini tidak pernah kudengar lagi. Suara yang slalu kurindukan.

“mmm…asuk” tercekat aku mundur dan mempersilahkan tamu itu masuk.

“apa kabar de?”

Aku masih diam.

“ade tinggal sendiri disini?”

Tiba-tiba aku kehilangan kendali. Tangisku pecah. Dan “Tolong keluar! Saya tidak kenal kamu!” bentakku yang sudah tidak bisa menahan perasaan. “Maaf de, kakak tidak bisa lagi menahan semuanya. Kakak akhirnya bisa pulang, tolong beri kakak waktu untuk menjelaskan semuanya. Jadilah milik kakak, untuk selamanya. Kakak janji akan menceritakan semuanya.” Suaranya yang tenang dan pelukannya yang hangat membuatku luluh dan berhenti meronta.

 

Kakak ku telah kembali, dan kini aku akan selalu bersamanya. Ia telah berjanji. Akan selalu membagi semuanya bersamaku, tidak akan pernah pergi lagi, meski itu untuk kebaikanku. Love u, selalu…..

 

=== Untukmu Selamanya ===

Studio, 16 Januari 2012

Akhirnya ada jalan untuk memaksakan melaksanakan kesukaan yang lama tidak termanjakan, akhirnya amatir ini mencoba beranikan untuk ikut dalam proyek #15HariNgeblogFF yang diadakan oleh Mbak @WangiMS dan Mas @momo_DM

Kamu Manis, Kataku

“Ghie, hari ini giliran kamu yang temani eyang putri di taman ya…” Ucapan mama yang berarti perintah yang tidak mungkin aku tolak. Jadilah pagi ini aku yang biasa hanya berenang di kolam belakang rumah jadi jogging ringan sambil menemani nenek ku tercinta di taman yang tidak jauh dari komplek tempat kami tinggal. “Yang, eyang disini saja kan? Ghie jogging dulu berkeliling ya?” dibalas anggukan eyang putri.

Selesai berkeliling, aku terkejut melihat eyang sudah tidak ada di injakan batu yang katanya untuk akupunktur itu. Mataku langsung berkeliling mencari, dan segera tertuju pada dua orang yang sedang asyik mengobrol sambil tertawa-tawa. “Itu Eyang!” Pekikku dan segera menghampiri. Sebelum aku sampai dan menyapa, aku terhenyak dengan ekspresi yang eyang tunjukan. Eyang tertawa! Ya, eyang tertawa. Setelah hampir satu tahun eyang putri hanya diam, jangankan tertawa, berbicara pun tidak. Semenjak kakek meninggal tiba-tiba karena serangan jantung. Terakhir kali kami mendengar suara eyang putri adalah saat eyang menangis dan memanggil kami, setelah kakek dikebumikan, eyang hanya terdiam, semua dilakukannya sendiri. Dan sekarang, eyang tertawa, sangat keras. Subhanallah, siapa dia? wanita di sebelah eyang yang telah berhasil membuat eyang sebahagia itu.

“Eyang…” Sapaku perlahan agar tidak mengagetkan beliau.

“Eh, kamu sudah selesai jogging nya? Kenalin. Ini, siapa namamu tadi nak? Oh ya, nenek tau. Fla. Namamu Fla. Kenalkan, ini cucu nenek yang paling ganteng.”

“Gilang”

“Fla”

Sambil kami berjabatan tangan.

“Nenek, Fla duluan ya. Sekarang Fla ga takut lagi ada yang culik nenek. Hehe….” Dia berkelakar.

“Kamu manis” kataku spontan tanpa sadar

“Apa?” Eyang dan Fla bertanya berbarengan menyadarkanku atas lamunan tadi.

“Oh, tidak”

“Sudah, Fla ikut kita saja pulangnya, toh rumah kita tidak jauh dari “istana” milik mu kan?” sambil membentuk tanda kutip di samping kepala. “Dan, tidak ada penolakan. Nenek tidak suka ditolak! Silahkan tanya pada cucu nenek. Benarkan Ghie, Eyang tidak suka ditolak?” sambil berlalu dan menarik tangan kami.

Hmm…. kamu memang spesial, entah kenapa, entah apa yang membuat kamu kurasa spesial. Wajah bulat dengan mata yang selalu berbinar, kulit sawo matang, dan rambut kuncir kuda serta senyumnya yang manis? Kurasa bukan itu. Lantas apa yang membuat eyang   melupakan kesedihannya?

Seharian ini, semua orang di rumah aneh namun berbahagia dan aku yang jadi bulan-bulanan pertanyaan semua orang rumah.

=== Untukmu Selamanya ===

Studio, 14 Januari 2012

Disela-sela waktu mencari ide untuk bikin Naskah Produk dan Manual Uji yang masih belum ada kemajuan.

Akhirnya ada jalan untuk memaksakan melaksanakan kesukaan yang lama tidak termanjakan, akhirnya amatir ini mencoba beranikan untuk ikut dalam proyek #15HariNgeblogFF yang diadakan oleh Mbak @WangiMS dan Mas @momo_DM

~ DAG DIG DUG ~

“Fla ga mau kaka temenin!!!” Protesku saat Ka Ghie ikut mendaftar dalam acara kemah kekeluargaan Mapala di kampus.

Ka Gilang yang sudah seperti kakak kandung bagiku langsung mengernyitkan keningnya dan pasang muka sedih.

“Kenapa ga boleh de, biasanya juga kan Kaka selalu ikut.” Alibinya sambil pasang wajah memelas

“Pokonya untuk yang sekarang ga boleh, kaka ikut keberangkatan gelombang dua aja, jadi kita ga satu mobil” Aku mencoba bernegosiasi

“Ko gitu de? ….. Okelah, Kaka daftar besok saja. Kalo ade udah. Yu, kita pulang sama-sama” Akhirnya Kak Ghie mengalah.

“Ade masih ada acara sama teman-teman di himpunan. Kaka pulang saja duluan ya” sambil nyengir dan berlalu

“ow ow ow, tidak bisa ade…….” pekik nya sambil memotong jalanku. Kebiasaan baik yang selalu kami pegang. Meski kami dekat, dan sudah seperti kakak beradik, tidak boleh ada kontak fisik, mengingat kami bukanlah saudara kandung. Aku merengut dan membuat takupan tangan di dada tanda memohon.

“Oke, kaka tunggu jam 5 di gerbang ya. Kita pulang sama-sama. Kaka ke base camp dulu kalo begitu”

Aku tetap berlalu sambil seperti biasa menjulurkan lidah tanda mengejeknya. Kak Ghie juga nyengir sambil berlalu.

Aku sebenarnya tidak ada acara dengan siapapun, tapi aku sedang berusaha menghindarimu kakak ku tersayang…… Karena aku sedang bersedih, aku tidak mau kehilangan kakak ku yang paling baik hati, penyabar, dan tampan. Kenapa Kakak harus menyusun kejadian kemarin? Kenapa kakak harus membangkitkan “Rasa” ini? Huft…..

———————————————–

“De, hari kaka ga jemput ya, ade berangkat dan pulang sendiri, tapi pulangnya tolong mampir ke rumah. Mamah ada perlu katanya.” Itu bunyi sms Ka Ghie pagi itu. tidak biasanya kaka menyampaikan sesuai lewat sms. Kaka paling tidak suka smsan, “Tidak meyakinkan. Saat sms sampai, belum tentu yang bersangkutan pegang hp dan langsung baca. Kalo lewat telpon, kita bisa yakin kalo yang bersangkutan mengerti dan setuju atau tidak.” jelasnya kala itu. Tapi pagi ini? ada apa dengan kakak ku. “Ka, are u ok?” balasku lewat pesan singkat juga.

Tiba-tiba suara MJ menderap menyenyikan black and white nya. Ada telpon masuk ke Nokia ku, Mama Novi. Hhmmmm ibunya Kak Ghie. “Assalamu’alaikum ma,” angkat ku

“Nak, gapapa kan hari ini sendirian? Ghie dan Dewa masih di jalan bantuin Ka Irma belanja. Nanti sore kamu kesini ya. Jangan lupa. Kita tunggu lhoooo, jangan lupa sore aja kesininya, ga boleh siang ya….” tut tut tut….. Setelah selesai berbicara, tanpa babibu langsung ditutup lagi telponnya. “Benar-benar pagi yang aneh” pikirku, dan berlalu, tidak mau mengambil pusing atas apa yang terjadi sebenarnya. Akhirnya beat hitam tungganganku yang jarang sekali dipakai aku panaskan dan bersiap berangkat.

Menjelang bubaran kampus Nokia ku mendapat sms. “De, jangan lupa ke rumah. Mama nunggu.” Aneh sungguh, sms lagi. Jadilah konsentrasiku buyar, kenapa kaka aneh sekali hari ini, tiga bulan lalu, saat kaka berkelakuan aneh, dia menghilang selama dua minggu karena ngambek sama bapak. Sekarang? semoga tidak ada apa-apa. Kupacu beat hitam menuju kediaman kaka dan keluarganya. Tiba di teras, tidak ada yang aneh, semua sepi seperti biasanya, namun, ada sesuatu dengan jantungku. Ko tiba-tiba ada suara gemuruh “DAG DIG DUG DAG DIG DUG”. Aneh sekali. Ada apakah di dalam. Tidak seperti biasanya perasaanku seperti ini. Sudah hampir tiga tahun aku keluar masuk rumah ini dengan bebas. Tidak ada perasaan aneh seperti ini, meski dulu saat pertama kali.

Aku buka pintu belakang dan berucap salam. Tidak ada yang menyahut. Aneh sungguh, padahal kendaraan di luar lengkap, yang berarti seluruh penghuni rumah ini juga lengkap. Tiba-tiba Kak Ghie datang dengan pakaian rapi dan senyum yang sangat manis. Aneh sungguh. Dan dada ini, makin “DAG DIG DUG” . “ada apa kak? ko sepi?”

“ayo masuk”

“aneh, yang lain kemana? mama mana?” gumamku sambil duduk di sofa saat tiba di ruang keluarga yang sepi, malah ada seikat bunga mawar merah putih indah dan cheese cake favoritku. Hhhmmmm….

Tiba-tiba, “De, maafkan kakak ya kalo kakak lancang” sambil duduk bersila di depan sofa yang kududuki. “Ih kaka aneh, kenapa duduk di bawah. Sini aja” sambil menepuk-nepuk sofa di sebelah yang kududuki.

“Kakak serius de. Tolong. Maukah ade slalu nemenin kaka?”

“Tentu saja mau ka, kan slama ini kita slalu sama-sama” jawabku sambil merasa tidak enak. Makin tidak nyaman, perasaanku jadi memanas. “Ada apakah ini????” pekikku dalam hati.

“Bukan hanya itu, bukan hanya menemani sebagai adik yang ikut kakak nya dan kakak yang menjaga adiknya, tapi menemani kakak untuk selamanya, menjadi bagian dari kehidupan kakak selamanya. Menjadi istri kakak de, mungkin tidak sekarang, tapi tolong terima khitbahan kakak ini. Jika ade mau, kita bisa merencanakan langkah selanjutnya saat adik siap.”

Deg….. jantungku serasa berhenti. “Ka, maksudnya apa ini?” Aku tercekat

Oh tidak, apakah yang barusan itu adalah sebuah lamaran? apakah yang selalu dibicarakan teman dan sahabat kami semuanya menjadi kenyataan? aku yang terlalu polos menanggapi semuanya atau Aku yang bodoh yang tidak bisa memahami semuanya?

“Kakak tau, mungkin ade terkejut, kakak juga tau, ade mungkin tidak merasakan hal yang sama dengan kakak. Tapi kakak sangat senang saat kita bersama. Kakak sebentar lagi lulus, ade mungkin segera menyusul tahun depan. Kita sudah dewasa sayang.”

“Kak, ade pulang dulu ya. Ade sakit perut” Jujur rasa itu. Perutku tiba-tiba melilit. Kepalaku pusing. Perasaanku tidak menentu.

“Nak, makan lah dulu. Mama sudah masak pindang palembang kesukaanmu lho….” Mama mengagetkanku yang akan segera beranjak. Ternyata semuanya ada di kamar samping, dan sekarang semuanya keluar. Berkumpul.

“Ma, Fla ga enak badan. Maaf ya ma.” Jawabku sambil tetap akan berlalu

“Jangan hukum kakak atas kelancangan tadi de, jangan hukum mama dan yang lainnya juga. Please…” Kak Ghie menyetopku dan tiba-tiba menggenggam tanganku yang dingin bagai es. Aku terkejut dan merasakan semuanya tiba-tiba melayang, aku tidak sadarkan diri…..

=== Untukmu Selamanya ===

Studio, 13 Januari 2012

Disela-sela waktu mencari ide untuk bikin naskah produk.

Akhirnya ada jalan untuk memaksakan melaksanakan kesukaan yang lama tidak termanjakan, akhirnya amatir ini mencoba beranikan untuk ikut dalam proyek #15HariNgeblogFF yang diadakan oleh Mbak @WangiMS dan Mas