~ DAG DIG DUG ~

“Fla ga mau kaka temenin!!!” Protesku saat Ka Ghie ikut mendaftar dalam acara kemah kekeluargaan Mapala di kampus.

Ka Gilang yang sudah seperti kakak kandung bagiku langsung mengernyitkan keningnya dan pasang muka sedih.

“Kenapa ga boleh de, biasanya juga kan Kaka selalu ikut.” Alibinya sambil pasang wajah memelas

“Pokonya untuk yang sekarang ga boleh, kaka ikut keberangkatan gelombang dua aja, jadi kita ga satu mobil” Aku mencoba bernegosiasi

“Ko gitu de? ….. Okelah, Kaka daftar besok saja. Kalo ade udah. Yu, kita pulang sama-sama” Akhirnya Kak Ghie mengalah.

“Ade masih ada acara sama teman-teman di himpunan. Kaka pulang saja duluan ya” sambil nyengir dan berlalu

“ow ow ow, tidak bisa ade…….” pekik nya sambil memotong jalanku. Kebiasaan baik yang selalu kami pegang. Meski kami dekat, dan sudah seperti kakak beradik, tidak boleh ada kontak fisik, mengingat kami bukanlah saudara kandung. Aku merengut dan membuat takupan tangan di dada tanda memohon.

“Oke, kaka tunggu jam 5 di gerbang ya. Kita pulang sama-sama. Kaka ke base camp dulu kalo begitu”

Aku tetap berlalu sambil seperti biasa menjulurkan lidah tanda mengejeknya. Kak Ghie juga nyengir sambil berlalu.

Aku sebenarnya tidak ada acara dengan siapapun, tapi aku sedang berusaha menghindarimu kakak ku tersayang…… Karena aku sedang bersedih, aku tidak mau kehilangan kakak ku yang paling baik hati, penyabar, dan tampan. Kenapa Kakak harus menyusun kejadian kemarin? Kenapa kakak harus membangkitkan “Rasa” ini? Huft…..

———————————————–

“De, hari kaka ga jemput ya, ade berangkat dan pulang sendiri, tapi pulangnya tolong mampir ke rumah. Mamah ada perlu katanya.” Itu bunyi sms Ka Ghie pagi itu. tidak biasanya kaka menyampaikan sesuai lewat sms. Kaka paling tidak suka smsan, “Tidak meyakinkan. Saat sms sampai, belum tentu yang bersangkutan pegang hp dan langsung baca. Kalo lewat telpon, kita bisa yakin kalo yang bersangkutan mengerti dan setuju atau tidak.” jelasnya kala itu. Tapi pagi ini? ada apa dengan kakak ku. “Ka, are u ok?” balasku lewat pesan singkat juga.

Tiba-tiba suara MJ menderap menyenyikan black and white nya. Ada telpon masuk ke Nokia ku, Mama Novi. Hhmmmm ibunya Kak Ghie. “Assalamu’alaikum ma,” angkat ku

“Nak, gapapa kan hari ini sendirian? Ghie dan Dewa masih di jalan bantuin Ka Irma belanja. Nanti sore kamu kesini ya. Jangan lupa. Kita tunggu lhoooo, jangan lupa sore aja kesininya, ga boleh siang ya….” tut tut tut….. Setelah selesai berbicara, tanpa babibu langsung ditutup lagi telponnya. “Benar-benar pagi yang aneh” pikirku, dan berlalu, tidak mau mengambil pusing atas apa yang terjadi sebenarnya. Akhirnya beat hitam tungganganku yang jarang sekali dipakai aku panaskan dan bersiap berangkat.

Menjelang bubaran kampus Nokia ku mendapat sms. “De, jangan lupa ke rumah. Mama nunggu.” Aneh sungguh, sms lagi. Jadilah konsentrasiku buyar, kenapa kaka aneh sekali hari ini, tiga bulan lalu, saat kaka berkelakuan aneh, dia menghilang selama dua minggu karena ngambek sama bapak. Sekarang? semoga tidak ada apa-apa. Kupacu beat hitam menuju kediaman kaka dan keluarganya. Tiba di teras, tidak ada yang aneh, semua sepi seperti biasanya, namun, ada sesuatu dengan jantungku. Ko tiba-tiba ada suara gemuruh “DAG DIG DUG DAG DIG DUG”. Aneh sekali. Ada apakah di dalam. Tidak seperti biasanya perasaanku seperti ini. Sudah hampir tiga tahun aku keluar masuk rumah ini dengan bebas. Tidak ada perasaan aneh seperti ini, meski dulu saat pertama kali.

Aku buka pintu belakang dan berucap salam. Tidak ada yang menyahut. Aneh sungguh, padahal kendaraan di luar lengkap, yang berarti seluruh penghuni rumah ini juga lengkap. Tiba-tiba Kak Ghie datang dengan pakaian rapi dan senyum yang sangat manis. Aneh sungguh. Dan dada ini, makin “DAG DIG DUG” . “ada apa kak? ko sepi?”

“ayo masuk”

“aneh, yang lain kemana? mama mana?” gumamku sambil duduk di sofa saat tiba di ruang keluarga yang sepi, malah ada seikat bunga mawar merah putih indah dan cheese cake favoritku. Hhhmmmm….

Tiba-tiba, “De, maafkan kakak ya kalo kakak lancang” sambil duduk bersila di depan sofa yang kududuki. “Ih kaka aneh, kenapa duduk di bawah. Sini aja” sambil menepuk-nepuk sofa di sebelah yang kududuki.

“Kakak serius de. Tolong. Maukah ade slalu nemenin kaka?”

“Tentu saja mau ka, kan slama ini kita slalu sama-sama” jawabku sambil merasa tidak enak. Makin tidak nyaman, perasaanku jadi memanas. “Ada apakah ini????” pekikku dalam hati.

“Bukan hanya itu, bukan hanya menemani sebagai adik yang ikut kakak nya dan kakak yang menjaga adiknya, tapi menemani kakak untuk selamanya, menjadi bagian dari kehidupan kakak selamanya. Menjadi istri kakak de, mungkin tidak sekarang, tapi tolong terima khitbahan kakak ini. Jika ade mau, kita bisa merencanakan langkah selanjutnya saat adik siap.”

Deg….. jantungku serasa berhenti. “Ka, maksudnya apa ini?” Aku tercekat

Oh tidak, apakah yang barusan itu adalah sebuah lamaran? apakah yang selalu dibicarakan teman dan sahabat kami semuanya menjadi kenyataan? aku yang terlalu polos menanggapi semuanya atau Aku yang bodoh yang tidak bisa memahami semuanya?

“Kakak tau, mungkin ade terkejut, kakak juga tau, ade mungkin tidak merasakan hal yang sama dengan kakak. Tapi kakak sangat senang saat kita bersama. Kakak sebentar lagi lulus, ade mungkin segera menyusul tahun depan. Kita sudah dewasa sayang.”

“Kak, ade pulang dulu ya. Ade sakit perut” Jujur rasa itu. Perutku tiba-tiba melilit. Kepalaku pusing. Perasaanku tidak menentu.

“Nak, makan lah dulu. Mama sudah masak pindang palembang kesukaanmu lho….” Mama mengagetkanku yang akan segera beranjak. Ternyata semuanya ada di kamar samping, dan sekarang semuanya keluar. Berkumpul.

“Ma, Fla ga enak badan. Maaf ya ma.” Jawabku sambil tetap akan berlalu

“Jangan hukum kakak atas kelancangan tadi de, jangan hukum mama dan yang lainnya juga. Please…” Kak Ghie menyetopku dan tiba-tiba menggenggam tanganku yang dingin bagai es. Aku terkejut dan merasakan semuanya tiba-tiba melayang, aku tidak sadarkan diri…..

=== Untukmu Selamanya ===

Studio, 13 Januari 2012

Disela-sela waktu mencari ide untuk bikin naskah produk.

Akhirnya ada jalan untuk memaksakan melaksanakan kesukaan yang lama tidak termanjakan, akhirnya amatir ini mencoba beranikan untuk ikut dalam proyek #15HariNgeblogFF yang diadakan oleh Mbak @WangiMS dan Mas

Iklan

“Halo, Siapa Namamu?”

“Semuanya sungguh kacau! Menyebalkan!” pekikku dalam hati sambil menendang kerikil yang menghalangi langkahku menuju istana terindah milikku. Ya, “Istana Terindah”. Sebutan untuk sebuah paviliun kecil yang kusewa, dan kuubah menjadi istana kecil yang indah dan menyenangkan. Versi aku tentunya.

Kejadian di studio barusan benar-benar membuatku meradang, semua memperlakukan aku seolah aku seorang pesakitan, seorang penjilat yang tega merusak nama temannya demi sebuah pujian atau posisi di studio ini. Mungkin karena aku adalah satu-satunya karyawan paling senior, dimana perusahaan ini berdiri dengan hanya aku karyawannya hingga setelah beberapa tahun dan mulai merekrut rekan yang lain. Tentu bukan aku yang salah jika semua bos masih menganggap aku adalah kepercayaan mereka. Tapi kenapa pandangan sinis yang aku terima, sangat tidak adil kurasa jika pandangan itu ditujukan padaku tanpa mereka utarakan salahku. Lebih dipercaya dan senior, bukan suatu kesalahan bukan?

Tiba-tiba aku teringat dengan kedai kopi yang terletak tidak jauh dari istana yang sudah sangat lama tidak kukunjungi. Kakiku tiba-tiba tertarik untuk berbelok dan masuk ke dalam. Sesampainya di pintu, mataku langsung tertuju pada Sofa Merah yang terletak di pojokan kedai, dan langsung menyeretku untuk duduk. Akhirnya kupesan juga milkshake plain favoritku dan asyik memainkan ipad sampai tiba-tiba seseorang mengagetkanku,

“Halo, Siapa Namamu?”

“Sendirian? Boleh Aku Ikut Duduk Disini Menemanimu?”

Aku terkejut dan spontan menengok ke asal suara, seorang pemuda seumuranku, mungkin sedikit lebih tua dariku tiba-tiba menyapa.

“Oh, hai. Silahkan” Jawabku pendek, dan langsung kembali asyik sendiri.

“Aku sahabatnya Ghie. Kamu Fla kan?”

Hohoho…. jantungku serasa ada yang menusuk, dan tiba-tiba aku menggeletar.

“Ghie? Kenal dimana?” Jawabku tercekat.

Nama itu seakan menarikku dari zona nyaman saat ini, kembali mengingatkanku pada masa indah dulu.

“Sudah lama saya selalu menunggu kamu disini dik, sejak tiga tahun lalu, setiap hari aku datang kesini, bahkan..”

“Maaf, saya ada janji di tempat lain. Permisi” Potongku sambil bergegas meninggalkan kedai.

Aku berlari sekuat yang aku bisa, dan berharap tidak akan bertemu orang yang kukenal hingga tiba di istanaku. Aku tak mau ada orang yang melihatku menangis. Fla tidak pernah menangis, Fla tabah, Fla kuat. Fla akan selalu menepati janji Fla sama Kak Ghie, kalo sepeninggal kaka, Fla akan selalu baik-baik saja. Tapi Fla tidak mau ada orang lain yang mengingatkan dan menyebut tentang Kaka. Biarkan kaka tetap hidup di hati Fla…

=== Untukmu Selamanya ===

Studio, 12 Januari 2012

Disela-sela waktu mencari ide untuk bikin naskah produk.

Akhirnya ada jalan untuk memaksakan melaksanakan kesukaan yang lama tidak termanjakan, akhirnya amatir ini mencoba beranikan untuk ikut dalam proyek #15HariNgeblogFF yang diadakan oleh Mbak @WangiMS dan Mas @momo_DM